Makassar,
2015-01-29
Saya menulis ini, bukan karena saya terlalu
fanatik dengan CINTA, TAPI saya hanya ingin menumpahkan segenap perasaan yang
pernah saya alami sendiri., yang menurut saya ini adalah hal yang luar bisa
yang di sepanjang 19 tahun hidup saya. Saya betul-betul merasakan semua
perubahan itu, kalian mungkin tidak tahu dulu sebelum cinta menyapa saya hanya
seorang remaja cuek yang tidak mau tahu dengan hal apapun itu yang membuatku
berfikir hanya sandiwara hidup. Terkadang saya muak dengan cerita-cerita mereka
yang membuat otak saya kaku.
Sebagaian
dari remaja wanita mungkin pernah merasakan hal yang sama dengan apa yang saya
rasakan saat itu, sepertinya saya adalah orang yang paling merugi jika tidak
mempublikasikan moment-moment krusial yang menurut saya pribadi adalah hal yang
paling terindah dari apapun yang kalian anggap indah. Buktinya kenangan itu
masih lengkap dan masih sangat jelas tergambar di dalam memori saya hingga
sampai detik ini setelah 5 tahun kini telah berlalu.
Akhirnya
saya berfikir untuk menyederhanakan kenangan itu agar bisa kalian terima dan
saya berharap kalian bisa mencocokkan sendiri dengan apa yang mungkin pernah
atau sekarang kalian alami.
Saya
adalah salah satu dari sekian remaja yang menjadi korban dari cinta pertama,
ingat, Ini cinta pertama ya, bukan cinta pada pandangan pertama. Cinta pertama
yang membuat saya mengerti makna dari sisi romantisme hidup, banyak hal-hal
aneh yang sama sekali bukan cerminan pribadi saya ketika itu. Waktu itu saya
mengenal dia lewat telfon/hp, singkatnya hanya melalui suara, tanpa sekalipun
memperhatikan seperti apa wajahnya, postur tubuhnya, warna kulitnya atau apapun
itu yang menjadi prioritas utama sebagian remaja kala ditembak seorang cowok.
Nah, ini adalah keanehan pertama yang saya alami waktu itu, setelah 3 tahun
terikat kontrak dengan kawan2 se_Gank untuk tidak
akan pernah membuka hati kepada pria manapun alias pacaran. Namun apa daya
peraturan itu saya langgar hanya untuk seorang pria yang tak berwujud. Keanehan
kedua, Malam itu saya mendapatkan pengalaman baru yakni untuk pertama kalinya
menerima telfon dari pria asing, dan setia berbagi cerita lebih dari 2 jam non
stop walau menggunakan hp pinjaman sepupu. Saking asiknya saya sampai lupa jati
diri saya selama 3 tahun bersarang dan saya pertahankan bahwa saya tidak akan
pernah percaya omongan laki-laki meski harus bersujud sekalipun. Entah kalian
mau menyebut ini sebagai karma atau kutukan sekalipun, ini benar-benar realita
yang telah tuhan goreskan di balik garis halus telapak tanganku.
Rasanya
waktu berjalan begitu lambat, kata per kata yang keluar dari mulutnya sekiranya
mampu menambal setiap kekosongan hatiku yang tak pernah terjamah oleh manusia
siapapun. kalian tahu, ini lebih indah dari langit senja, lebih indah dari
irama rintik hujan, lebih indah dari nyanyian ombak, lebih indah dari kicauan
burung dilangit lepas. Suatu energi baru seperti merasuki setiap organ tubuhku
yang telah lama kaku, kurasakan juga kehadiran sinar terang yang seolah
menyinari gelapnya lorong waktu yang kutempuh sendiri, ajaib memang, tapi
sungguh inilah yang aku rasakan saat itu.
Entah
bagaimana bisa semua keajaiban itu mampu membawaku terbang, terbuai dalam
alunan nada-nada indah yang merasuki jiwaku lewat hembusan angin malam butta
panrita lopi, sekilas terbayang jelas bagaimana raut wajahnya meski aku sendiri
tidak yakin dengan skema yang muncul secara spontan itu. namun, aku bisa
merasakan detakan demi detakan jantungnya yang seakan seirama dengan detakan
jantungku.
Kami
terbuai begitu dalam dengan alunan asmara yang seolah menjadi sountrack
prosesi jadian kita, meski hanya dengan sebuah kalimat sederhana yang sempat
terlintas dengan dialeg khasnya “ku sukaki, maujaki
jadi pacarku ? “, mampu membuat saya gugup dan kehilangan radar, langsung
saja rohku melayang berbaur dengan kalimat itu. ku telaah huruf demi huruf,
kata demi kata, hingga ku temukan sebuah jawaban yang rasanya pantas aku
lontarkan, bukan jawaban iya atau serius ? , yang menjadi tamengku, namun saya
balik bertanya dengan perasaan campur aduk layaknya gado-gado yang isinya
bermacam-macam. Bahagia, kaget, terharu, marah melebur menjadi satu. Semuanya
memuncak menekan aliran nafasku. Bagaimana mungkin ini terjadi ? dia begitu
kesatria mengungkapakan apa yang dia yakini setelah beberapa jam berlalu
melihatku. Pertanyaan yang sekaligus menjadi jawabanku itu sontak membuatnya
kaget, “kenapa
bisa kita sukaka, tidak pernahki ketemu ? “, dengan cekatan dia menjawab, karena pintarki,
karena baik ki, karena kusukaki waktuta kuliat depan rumah “. Hah ?
jantungku rasanya berkontraksi 1000x lipat dari biasanya, bagaimana mungkin
jawaban se aneh itu bisa dia ucapkan secara spontan pula? Apakah hanya karangan
atau hanya rayuan belaka aku juga tidak tahu pasti. Mungkin karena mengerti
mengapa saya terdiam, dia melanjutkan jawaban konyolnya bahwa sebelumnya dia
telah mencari tahu semuanya lewat tanteku. Pria macam apa dia, dengan umur yang
masih 17 tahun, bisa seberani itu melakukan hal-hal yang memang itu konyol,
100% konyol.
Detik
demi detik terlewatkan dengan dramatis, ini lebih sulit dari ujian akhir
nasional yang baru saja kulewati 2 minggu yang lalu. Semuanya berfokus kepada
kehidupanku esok hari, akankah saya mengiyakan atau menolaknya mentah2.
Beberapa menit kemudian, dia kembali bertanya jawaban apa yang akan aku
katakan. Bagaimanaji
jawabanta ?, menjadi pertanyaan selanjutnya. Saya hanya bisa meminta waktu
9 menit untuk menormalkan aliran nafasku yang sedari tadi kronis stadium akhir.
Hingga pada akhirnya jawabanku keluar dengan begitu lantangnya tepat pada pukul
21:00 yang juga menjadi angka bersejarah di sepanjang petualanganku. “Iya, mauja “, menjadi
jawaban tersingkat dari pertanyaan rumit yang pernah aku hadapi. Tiba-tiba
suara keras merasuki lorong telingaku, dan ternyata suara itu berasal dari
hentakan kakinya yang melompat kegirangan. Dia berteriak “yes” seolah meluapkan
semua kebahagiannya.
Keputusanku
untuk menerima dia sebagai orang pertama di hatiku memang sangatlah mendadak,
tapi rasanya keyakinan itu memenuhi logikaku. Setelah resmi jadian, dia
menghadiahku sebuah kalimat indah, sebuah kalimat yang dia titipkan lewat
hembusan angin malam yang masuk melalui celah jendela kamarku. Kalian mau tahu
apa yang dia ucapkan ?, “Angin, antarkan rasa
sayangku ini, agar mampu menghangatkan seorang kesayanganku “, saya
hanya bisa tersenyum manis bak seorang miss world yang menuai pujian sejagad
raya. Kita bahagia bersama, dalam balutan romansa asmara yang baru saja di
panahkan sang dewi cinta.
Hari
demi hari berlalu dengan penuh suka cita, bersama melangkah mengukir jejak
diatas hamparan pasir putih, bersama menikmati damainya langit senja,
menjelajah hari-hari bulan april berdua. Semua yang tercipta selalu berhasil
menorehkan jejak indah, mulai dari pertemuan dibalik jendela, boneka winnie the
pooh, hadiah lagu dari armada “ buka hatimu “ yang selalu setia menjadi penutup
hariku, sampai lemparan batu yang dia terima dari suami tanteku karena
memergoki kami berdua saling menyapa. Hahaha..
Bagaimana
dengan pengalaman asmara kalian? Apakah ada kesamaan alur?, jika iya apakah
kalian masih mengenangnya sampai sekarang?,
Percayalah,
CINTA pertama selalu berhasil membuat hidup kalian lebih berwarna. OK !!
“
Rahma “

Tidak ada komentar:
Posting Komentar