Dear : My boo
.........
Kali ini, kuberanikan diri menuangkan segenap rasa di dalam hatiku, rasa
yang telah lama aku simpan dalam-dalam hingga akhirnya tak terasa sudah genap 2
tahun lamanya kita berpisah. Entah kapan sang ilahi menakdirkan kita untuk
kembali bertemu. Awalnya, tekadku begitu bulat untuk tidak akan pernah
menceritaknnya padamu, namun setelah ku fikir-fikir, rasanya predikat egois
akan segera kusandang jika aku terus menerus menyembunyikan semua ini. Lagi
pula aku sempat di hampiri rasa takut, jika pada saatnya nanti masa itu tiba,
saat ketika kontrak di duniaku telah berakhir, hingga pada akhirnya kau
benar-benar tak pernah tahu bahwa perempuan yang pernah menjadi teman sekelasmu
itu telah menjadi pengagum rahasiamu. Tak mampu ku bayangkan betapa menyesal
dan bodohnya aku menyikapi perasaan ini.
Namun, dilain sisi Aku tak yakin, apakah kau akan percaya dengan apa yang
nanti akan ku ceritakan, karena setahuku kau memang hanya menganggapku teman
biasa. Kau mungkin akan lebih tak percaya, bahwa setiap malam menjelang
tidurku, aku selalu menyempatkan diri untuk menorehkan moment-moment indah yang
baru saja kita lewati sepulang sekolah. Sampai-sampai aku baru tersadar bahwa
diary berwarna pink smooth yang ku beri nama Boo itu kini tersisa beberapa
lembar lagi. Dengan bersemangatnya, aku mulai menorehkan penaku membentuk
kalimat “ Dear: my First love “.
Yaa,,, , satu tahun terakhir ini Aku tak mampu
menutupi perasaan yang orang-orang sebut itu cinta.
Kehadiranmu
benar-benar ampuh memberikanku inspirasi. Aku sadar usia kita saat itu masih
sangat muda, kita baru saja memasuki babak yang populer dengan sebutan sweet seventeen. Dan untuk pertama
kalinya dalam sejarah hidupku aku merasakan apa yang tak pernah kurasakan
sebelumnya, aku merasakan perubahan yang tak pernah aku bayangkan. Debaran
hebat, keringat dingin disertai gugup tak pernah absen menghampiri dikala
senyum yang tak ku anggap biasa itu tertuju padaku, aku tak kuasa untuk
tertunduk malu menyembunyikan kebahagiaanku yang mencapai klimaks. Belum lagi
saat kau menyapaku meskipun dengan logat khas daerahmu yang sedikit bernada
tinggi. Kau tahu? Entah mengapa, akupun selalu punya cara menghadapi bad moodku yang tak jarang menghalangiku
untuk kembali melukiskan rasa kagumku lewat tulisan itu. Rasa kantukku seketika hilang terbawa dinginnya angin
malam yang berhembus melalui jendela kamarku. Tak butuh waktu lama bagiku menghabiskan 2 lembar
ketas yang tebalnya hampir 3 centi itu. Hampir setiap detik memori di otak ku
terkoneksi mengirimkan sinyal ke syaraf- syaraf tanganku untuk terus merangkai
kata per kata yang menurutku pas melukiskan sosokmu. Saking bersemangatnya, aku
bahkan selau lupa bahwa detakan jam di sudut kamarku telah melewati batas waktu
yang telah kusepakati dengan ayahku.
Selepas itu, aku tak lantas terlelap begitu saja, sebelum tanganku menarik
selimut dengan motif club andalanku fc
barca, lembaran sebelumnya kembali kubaca berulang-ulang hingga senyumku
tak lagi merekah karena kantukku yang tak mampu kutahan. tak lupa aku berdoa
kepada sang maha cinta agar di alam mimpi, kita kembali di pertemukan dengan
skenario baru yang tak kalah indah dari mimpi dimalam-malam sebelumnya
Kuharapa kau bisa mengerti !! ..
( bersambung
)...

Mantapppppppppp (y)
BalasHapushahahaaa,,, Ahzeggg , thanks jempolnya neng :D
BalasHapus