Senin, 13 Oktober 2014

My Boo part II



Dear : My boo
.........
Kali ini, kuberanikan diri menuangkan segenap rasa di dalam hatiku, rasa yang telah lama aku simpan dalam-dalam hingga akhirnya tak terasa sudah genap 2 tahun lamanya kita berpisah. Entah kapan sang ilahi menakdirkan kita untuk kembali bertemu. Awalnya, tekadku begitu bulat untuk tidak akan pernah menceritaknnya padamu, namun setelah ku fikir-fikir, rasanya predikat egois akan segera kusandang jika aku terus menerus menyembunyikan semua ini. Lagi pula aku sempat di hampiri rasa takut, jika pada saatnya nanti masa itu tiba, saat ketika kontrak di duniaku telah berakhir, hingga pada akhirnya kau benar-benar tak pernah tahu bahwa perempuan yang pernah menjadi teman sekelasmu itu telah menjadi pengagum rahasiamu. Tak mampu ku bayangkan betapa menyesal dan bodohnya aku menyikapi perasaan ini.
Namun, dilain sisi Aku tak yakin, apakah kau akan percaya dengan apa yang nanti akan ku ceritakan, karena setahuku kau memang hanya menganggapku teman biasa. Kau mungkin akan lebih tak percaya, bahwa setiap malam menjelang tidurku, aku selalu menyempatkan diri untuk menorehkan moment-moment indah yang baru saja kita lewati sepulang sekolah. Sampai-sampai aku baru tersadar bahwa diary berwarna pink smooth yang ku beri nama Boo itu kini tersisa beberapa lembar lagi. Dengan bersemangatnya, aku mulai menorehkan penaku membentuk kalimat “ Dear: my First love “. Yaa,,, , satu tahun terakhir ini Aku tak mampu menutupi perasaan yang orang-orang sebut itu cinta.
Kehadiranmu benar-benar ampuh memberikanku inspirasi. Aku sadar usia kita saat itu masih sangat muda, kita baru saja memasuki babak yang populer dengan sebutan sweet seventeen. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupku aku merasakan apa yang tak pernah kurasakan sebelumnya, aku merasakan perubahan yang tak pernah aku bayangkan. Debaran hebat, keringat dingin disertai gugup tak pernah absen menghampiri dikala senyum yang tak ku anggap biasa itu tertuju padaku, aku tak kuasa untuk tertunduk malu menyembunyikan kebahagiaanku yang mencapai klimaks. Belum lagi saat kau menyapaku meskipun dengan logat khas daerahmu yang sedikit bernada tinggi. Kau tahu? Entah mengapa, akupun selalu punya cara menghadapi bad moodku yang tak jarang menghalangiku untuk kembali melukiskan rasa kagumku lewat tulisan itu. Rasa kantukku seketika hilang terbawa dinginnya angin malam yang berhembus melalui jendela kamarku. Tak butuh waktu lama bagiku menghabiskan 2 lembar ketas yang tebalnya hampir 3 centi itu. Hampir setiap detik memori di otak ku terkoneksi mengirimkan sinyal ke syaraf- syaraf tanganku untuk terus merangkai kata per kata yang menurutku pas melukiskan sosokmu. Saking bersemangatnya, aku bahkan selau lupa bahwa detakan jam di sudut kamarku telah melewati batas waktu yang telah kusepakati dengan ayahku.
Selepas itu, aku tak lantas terlelap begitu saja, sebelum tanganku menarik selimut dengan motif club andalanku fc barca, lembaran sebelumnya kembali kubaca berulang-ulang hingga senyumku tak lagi merekah karena kantukku yang tak mampu kutahan. tak lupa aku berdoa kepada sang maha cinta agar di alam mimpi, kita kembali di pertemukan dengan skenario baru yang tak kalah indah dari mimpi dimalam-malam sebelumnya
Kuharapa kau bisa mengerti !! ..
( bersambung )...


2 komentar: